Jumat, 01 Juli 2011

Scientist Penting Dilibatkan Untuk Suksesnya MP3I

Ambon, Untuk menunjang program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) pada 2025 mendatang,

Pemerintah Provinsi Maluku harus memiliki kebijakan khusus untuk memperkuat keberadaan dan peranan scientist (ilmuwan). Hal ini disampaikan Pembantu Dekan (PD) II Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Adriani Bandjar, Kamis (30/6). Menurutnya, dengan bantuan scientist, pengelolaan sumberdaya alam (SDA) akan menjadi lebih efektif dan efisien. Hasil maksimalnya, dapat mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat. Menurut dia, keunggulan di bidang sains dan teknologi, scientist dapat mengembangkan berbagai inovasi dan penerapan teknologi yang tepat bagi pengelolaan SDA. Program MP3EI, kata dia, merupakan mimpi besar Pemerintah Indonesia untuk mensejahterakan masyarakat dengan meningkatkan pedapatan perkapita sebesar 3.500 US Dolar menjadi 40.000 US Dollar. “Itu artinya, pemerintah harus berjuang keras untuk memaksimalkan berbagai sumber-sumber pendapatan,” katya dia. Menurut dia, mimpi besar itu membutuhkan kerja keras agar dapat terwujud, karena meningkatkan pendapatan perkapitan hingga 40.000 US dollar per tahun, pemerintah Indonesia tidak boleh tetap bertahan dengan pertumbuhan ekonomi yang hanya 6 sampai 7 persen saja, tapi pertumbuhan ekonomi Indonesia harus diatas 10 persen pertahun. Sementara saat ini, kata dia, upaya pemerintah untuk meningkatkan sumber pendapatan melalui program MP3EI, masih bertumpuh pada pengelolaan sumberdaya yang terdapat pada masing-masing provinsi. Untuk dapat mengoptimalkan pendapatan negara dan daerah dari hasil pengola potensi SDA, diperlukan SDM yang mumpuni dibidang sains dan teknologi. “Pengelolaan SDA tidak boleh dikelola secara biasa lagi, harus dilakukan secara luar biasa agar dapat mendatangkan pendapatan yang besar. Tidak ada kata lain, yaitu melakukan inovasi dan menerapkan hal tersebut untuk mengelola SDA yang ada, sehingga mendatangan nilai jual tinggi,” ungkapnya. Hanya saja, ingatnya, penerapan inovasi teknologi harus tetap pada koridor kelestarian lingkungan. Jangan karena mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi dengan penerapan teknologi, menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan, pencemaran dan polusi. Pada program MP3EI tersebut, katanya, Maluku masuk pada koridor enam, bersama Maluku Utara, Papua dan Papua Barat. Dengan keunggulan di sektor sumberdaya alam (SDA) perikanan dan kelautan, pertambangan, dan pertanian. Untuk itu, Pemerintah Maluku harus bekerja sama dengan berbagai perguruan tinggi yang merupakan gudang para scientist dan peniliti. Dengan melibatkan sejumlah scientist dan peneliti, perguruan tinggi dapat mengembangkan berbagai penelitian dan menghasilkan berbagai inovasi baru bagi pengelolaan sumberdaya perikanan dan kelautan, pertambangan dan serta pertanian. “Harus ada keselarasan atau kesatuan pandangan antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam hal pengembangan inovasi teknologi pengelolaan SDA. Ini untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

Tidak ada komentar: